Ruang Laktasi GSIT 12B

Seorang ibu menyusui membutuhkan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar untuk sukses ASI eksklusif atau menyusui sampai dengan usia anak 2 tahun. Perjuangan untuk dapat tetap memberikan ASI bagi seorang ibu yang merangkap pekerja alias working mom tidaklah mudah. Kebahagiaan seorang working mom yang memiliki bayi sebenarnya sederhana yaitu dapat menyusui dan memiliki ruangan yang nyaman untuk memompa ASI sehingga stock ASI untuk bayinya saat ditinggal kerja tetap terjaga.

Di saat kondisi pembangunan yang gencar ini, penyediaan ruangan khusus ibu menyusui atau nursery room atau ruangan laktasi sepertinya memang belum menjadi mandatory pada sebuah tempat perbelanjaan/mall, kampus yang menyediakan program S2 dan perkantoran. Jikalau pun ada kondisinya terlihat seperti ‘seadanya’, tidak memadai dan tidak mewakili kebutuhan ibu-ibu menyusui.

Keluarga dan lingkungan sekitar yang mendukung working mom untuk tetap dapat memberikan ASI ini aku beri sebutan sebagai ‘Pejuang ASI’. Tidak mudah bagi seseorang untuk dapat berempati pada kepentingan orang lain yang sebenarnya tidak memberikan efek baginya secara langsung, bahkan hanya untuk mendengarkan permasalahan orang lain juga membutuhkan kemauan. Akan tetapi, ternyata hal-hal baik itu masih ada ^^, masih ada yang sangat peduli dengan kepentingan ibu menyusui yang bekerja seperti aku. Siapa mereka? Ini dia atasan dan rekan kerjaku. Mereka semua yang dengan cepat dan tanggap merespon curhat atau lebih tepatnya keluh kesahku mengenai ruangan laktasi. Melalui dukungan mereka, saat ini di Divisi GSIT tempatku bekerja memiliki ruangan laktasi.

Pejuang ASI di GSIT 12B

Para Pejuang ASI GSIT
Ki-Ka; Ci Julina, Bpk Vincentius, Tanti Yulani

Special Thanks To :

  1. Bpk. Vincentius Chandra, atasanku yang sangat baik dan bijaksana. Terima kasih sudah meluangkan waktu diantara banyaknya kesibukan Bpk. untuk memikirkan kebutuhan para working mom agar kami dapat bekerja dengan dengan tenang, serta terima kasih telah memberi kepercayaan untuk mendesign ruangan laktasi ini. *biggest thanks*
  2. Ibu Julina Chandra, rekan kerjaku, yang dengan sukarela berbagi ruangan dokumentasinya untuk ruangan laktasi. *kiss&hug*
  3. Tanti Yulani, rekan kerjaku yang selalu sabar menemani saat bertemu dengan vendor dan banyak memberi masukan mengenai design ruangan laktasi. *kiss&hug*
  4. Bpk. Matyas, Bpk. Djony dan Pak Ary, tim dari Logistik dan Vendor yang akhirnya mewujudkan ruangan laktasi.

Tahap Renovasi Ruangan Laktasi GSIT 12B

Tahap renovasi ruangan laktasi ini diawali dengan pembuatan sekat yang membagi ruangan dokumentasi menjadi dua bagian lalu pembuatan meja, pemasangan wallpaper, pemasangan tirai terakhir kelengkapan furniture; lemari dan sofa. Pekerjaan dilakukan oleh vendor setiap Sabtu agar tidak mengganggu sekitar yang sedang bekerja.

Proses Renovasi Ruang Laktasi

Ruangan laktasi ini berada di Gedung tempatku bekerja, di lantai 12B. Ukurannya memang tidak besar hanya berukuran 2500 x 1957 mm, mengambil sebagian ruangan dokumentasi. Walaupun tergolong kecil, akan tetapi tidak mengurangi kenyamanannya. Antara ruangan dan pintu masuk dibatasi oleh tirai yang mencegah orang yang berlalu lalang diluar untuk langsung melihat ke dalam saat pintu terbuka. Di sebelah kanan pintu ada lemari minimalis dua tingkat untuk meletakan tas atau peralatan pompa ASI. Lemari ini dilengkapi dengan pintu dorong untuk efisiensi ruangan kecil. Diatas lemari ada sebuah steker yang dapat digunakan untuk keperluan sterilizer.

Lemari Ruangan Laktasi

Di seberang pintu ada meja yang terbuat dari papan panjang dengan salah satu sisinya melekat pada dinding. Papan ini berukuran 2500 x 300 mm. Di bagian dinding tepat di atas meja disediakan 4 buah steker untuk mengakomodir ibu menyusui yang menggunakan pompa ASI elektrik. Meja tersebut dilengkapi dengan 4 buah sofa yang ukurannya disesuaikan dengan ruangan.

Sofa Ruangan Laktasi
Tirai Ruangan Laktasi

Hal yang menarik dari ruangan ini adalah wallpapernya. Wallpaper ruangan laktasi ini sudah punya kisah tersendiri hahaha. Pembangunan ruangan laktasi ini sempat terhambat karena beberapa kali sample ruangan laktasi yang dibawa oleh vendor tidak ada yang ‘click’ dan sesuai dengan gambaran yang aku inginkan. Sampai akhirnya dapat satu wallpaper yang langsung bikin hati senang bin riang, wallpaper dengan dengan tema rumah yang lucu, didominasi dengan warna putih, pastel pink dan tosca. Rasanya benar-benar homie, lebih membuat bersemangat untuk lekas menyelesaikan pekerjaan dan pulang ketemu Ifa.

Wallpaper Ruangan Laktasi

Setelah dapat wallpaper akhirnya lanjut dengan pemilihan warna HPL, tirai dan sofa. Sesuai dengan rencana awal ruangan ini akan tetap didominasi dengan warna pastel. Untuk meja, agar lebih menarik diberi HPL dengan warna kuning lembut dan ungu muda yang disusun berselang-seling dan warna yang sama juga diterapkan untuk sofa. Tirai menggunakan warna pink yang agak gelap.

Secara keseluruhan ruangan laktasi ini sudah cukup memenuhi kebutuhan ibu menyusui, ruangan yang tenang, bersih dan nyaman. Kekurangan saat ini ada pada AC yang digunakan tergabung dengan AC diluar ruangan, sehinga saat suhu diluar ruangan laktasi dinaikan, ruangan akan terasa agak panas karena ventilator diruangan laktasi hanya ada satu. Pekerjaanku berikutnya yaitu untuk melengkapi ruangan dengan kotak tissue dan hand sanitizer. Belum memungkinkan untuk penempatan kulkas karena ruangan yang kecil dan menghindari kulkas dari kepanasan, maka penyimpanan ASIP akan digabung dengan kulkas yang ada diarea kerja yang dibuat khusus untuk minuman saja.

Untuk aturan mainnya, dikarenakan akses menuju ruangan laktasi ini berada ditengah area kerja, maka untuk tetap menjaga kenyamanan karyawan GSIT lainnya, ruangan laktasi untuk saat ini hanya digunakan khusus untuk ibu menyusui di GSIT.

 

Leave a Reply