Setiap Wanita adalah Pendekar

Mengapa setiap Wanita adalah Pendekar?

Wanita itu kompleks. Saat mendengar kata kompleks, yang terlintas dipikiran kita kira-kira seperti ini

Wanita itu rempong

Wanita itu baperan

Wanita itu ribet

Kalau dikatakan wanita itu kompleks sepertinya akan terlihat wanita itu adalah makhluk yang sulit dimengerti dan dipahami. Ada Band aja bilang kalau wanita itu ingin dimengerti 😐 . Kesannya memang wanita itu egois yaa.

Percayalah, para wanita memang begitu. Kami ini rempong, baperan, ribet dan bahkan memang benar kami ini maunya dimengerti. Tidak ada yang salah dengan hal itu, karena memang itulah wanita.

Ada banyak alasan mengapa wanita itu kompleks. Sebenarnya wanita itu bukan kompleks tetapi aku lebih suka menyebutnya sebagai komplit. Wanita dapat diibaratkan roti komplit yang penuh warna oleh olesan selai berbagai rasa, dikombinasikan dengan taburan serta tersaji sangat menarik diatas piring. Ketika disentuh roti komplit terasa empuk dan rapuh. Namun saat dimakan, roti komplit akan memberikan banyak cita rasa yang terkadang membuat kejutan di lidah. Sama halnya dengan wanita, kombinasi fisik dan perasaan wanita yang tampak fragile tidak membuatnya mudah hancur, tetapi justru wanita menyimpan banyak kejutan yang akan keluar saat dibutuhkan.

Seorang wanita dapat menjalani kehidupannya dengan banyak gelar yang melekat pada dirinya; sebagai seorang isteri, sebagai seorang ibu, sebagai seorang bawahan, ataupun sebagai seorang atasan. Dalam 24 jam jadwal hidup wanita akan dipenuhi dengan pekerjaan serta serentetan persoalan yang harus dipikirkan. Mulai dari pekerjaan rutin rumah yang termasuk kategori pekerjaan looping yang begitu selesai akan ada set looping yang lainnya, urusan asuh mengasuh anak dan jugaaaaa mengasuh suami (admit it! sebagai isteri, kita punya bocah gede juga di rumah yang terkadang lebih manja hahaha), dateline pekerjaan kantor dan ditambah dengan persoalan dadakan dengan berbagai tingkat urgensi yang  memaksa tingkat multi-tasking seorang wanita harus meningkat ke level dewa dalam waktu sesingkat mungkin.

Wanita sepertinya punya tombol on/off yang mampu mengaktifkan kekuatan dan perasaan ekstra yang tiada pernah habis. Kekuatan untuk terbiasa dengan hari-hari kurang tidur dan me time. Perasaan penuh untuk dapat berempati, berbahagia dan memotivasti keluarganya.

Proses penyelesaian semua tanggung jawab yang ada di setiap wanita terkadang membuat wanita ribet, rempong, dan baperan. Ribet karena memang wanita harus dapat memikirkan hal-hal detail untuk orang-orang yang disayanginya. Rempong karena memang wanita harus mengerjakan hal-hal dari yang paling sepele sampai yang terpenting demi orang-raong yang disayanginya. Baperan karena wanita harus mampu menghadapai emosi orang-orang tersayangnya tanpa memperdulikan emosinya sendiri (plus efek perubahan hormon) dan pada akhirnya dia tidak mampu mengendalikan emosinya  😯 .

Wanita benar-benar komplit; sosok menarik, serba bisa, penuh dengan kekuatan tersimpan yang tiada habisnya, selalu dinantikan kehadirannya ditengah keluarga. Wanita itu seperti pendekar. Pendekar, sebuah gelar yang aku berikan untuk diriku dan semua wanita yang ada didunia ini. Gelar ini sebagai tanda penghargaan dan pengingat bahwa wanita memang dimampukan untuk menyelesaikan tanggung jawab kami dengan baik dengan perasaan bahagia.

Ibu Kartini, pendekar yang membuka mata setiap wanita untuk menjadi kuat. Terima kasih Ibu Kartini

Oh yaa walaupun kami ini pendekar, kami tetap butuh perhatian dan kasih sayang yaa..  😆

Selamat Hari Kartini, buat semua wanita Indonesia.

Salam Pendekar.

Leave a Reply